Ketiga istilah ini dapat kita temui
dalam firman Allah:
وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا
لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي
ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: Dan di antara
tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya diantaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (QS.
Ar Rum [30]:21)
Dalam Tafsirnya Al alusi menyatakan
sakinah adalah merasa cenderung (muyul) kepada pasangan. Kecenderungan ini satu
hal yang wajar karena seseorang pasti akan cenderung terhadap dirinya. Padahal
menurut imam Ibnu Katsir wanita (Hawa) diciptakan dari tulang rusuk laki-laki
yang sebelah kiri. Allah SWT juga telah menegaskan bahwa laki-laki memiliki
kecenderungan pada wanita. Allah berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ
Artinya: Dijadikan indah
pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:
wanita-wanita, (QS ali ‘Imran [3]: 14)
Apabila kecenderungan ini disalurkan
sesuai dengan aturan Islam maka yang tercapai adalah ketentraman dan
ketenangan. Karena makna lain dari sakinah adalah ketenangan sebagaimana firman
Allah:
هُوَ الَّذِي أَنزلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ
لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَوَاتِ
وَالأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Artinya: Dia-lah yang telah
menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka
bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah
tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,
(QS Al Fath: 4)
Demikian pula firman Allah SWT:
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ
تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزلَ السَّكِينَةَ
عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
Artinya: Sesungguhnya Allah
telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu
di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu
menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan
kemenangan yang dekat (waktunya) (Qs. Al fath:18)
Ketenangan dan ketentraman inilah
yang menjadi salah satu tujuan pernikahan. Karena pernikahan adalah sarana
efektif untuk menjaga kesucian hati dan terhindar dari perzinahan. Nabi saw
bersabda:
يا معشر الشباب من استطاع الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن
للفرج
Artinya: “Wahai para pemuda,
siapa saja di antara kalian yang telah mampu menanggung beban, hendaklah segera
menikah. Karena pernikahan dapat menundukan pandangan dan menjaga kemaluan”
(Muttafaq ’alayhi dari jalur Abdullâh ibn Mas’ûd)
Mengenai pengertian mawaddah menurut
Imam Ibnu Katsir adalah al mahabbah (rasa cinta) sedangkan ar rahmah adalah
ar-ra’fah (kasih sayang). Dalam tafsir al Alusi penulis mengutip pendapat
Hasan, Mujahid dan Ikrimah yang menyatakan mawaddah adalah makna kinayah dari
nikah yaitu jima’ sebagai konsekuensi dari pernikahan. Sedangkan ar rahmah
adalah makna kinayah dari keturunan yaitu terlahirnya keturunan dari hasil
pernikahan. Masih dalam tafsir al Alusi ada juga yang mengatakan bahwa mawaddah
berlaku bagi orang yang masih muda sedangkan ar-rahmah bagi orang yang sudah
tua.
Implementasi dari mawaddah wa rahmah
ini adalah sikap saling menjaga, melindungi, saling membantu, memahami hak dan
kewajiban masing-masing antara lain memberikan nafkah bagi laki-laki. Sangat
indah perumpamaan yang disebutkan dalam al qur’an mengenai interaksi
suami-istri. Allah berfirman:
هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ
Artinya: Mereka adalah pakaian
bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.(QS. Al-baqarah [2]: 187)
Pakainan adalah lambang dari
kehormatan dan kemuliaan karena salah satu fungsi pakaian adalah untuk menutup
aurat. Aurat sendiri maknanya adalah sesuatu yang memalukan. Karena memalukan
maka harus ditutup. Maka demikianlah seharusnya hubungan suami-istri. Satu sama
lain harus saling menutupi kekurangan pasangannya dan bersinergi untuk
mempersembahkan yang terbaik.
Sebagai penutup tulisan singkat ini.
Kita harus sadar bahwa pasangan hidup, termasuk kecenderungan/ ketenangan (as
sakiinah), rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (ar rahmah) adalah sebagian
dari banyak nikmat yang Allah berikan kepada hamba-hambanya khususnnya hambanya
yang beriman. Perhatikanlah redaksi ayat pada surah ar rum diatas “Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri” dan “dijadikan-Nya
diantaramu rasa sinta dan kasih sayang” dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa
Dirinyalah yang memberikan itu semua kepada hamba-hambanya. Wabil
khusus ar-rahmah adalah adalah bentukan (Musytaq) dari salah satu
sifat dan Asma Allah yaitu rahima. Demikian pula ar-ra’fah yang
merupakan salah salah satu asma dan sifat Allah ar-rauuf (yang Maha kasih).
Untuk apa semua ini? Tidak lain agar
manusia berfikir “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. Setelah itu beiman, beramal dan bersyukur
atas segala nikmat yang Allah berikan yang seandainya kita hitung nikmat
tersebut dengan alat hitung secangggih apapun kita pasti takkan mampu
menghitunnya.
0 komentar
Posting Komentar