Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat
dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Alhamdulillah, bulan Dzulhijah telah menghampiri
kita. Bulan mulia dengan berbagai amalan mulia terdapat di dalamnya. Lantas apa
saja amalan utama yang bisa kita amalkan di awal-awal Dzulhijah? Semoga tulisan
sederhana berikut bisa memotivasi kita untuk banyak beramal di awal Dzulhijah.
Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Dzulhijah
Adapun keutamaan beramal di sepuluh
hari pertama Dzulhijah diterangkan dalam hadits Ibnu ‘Abbasradhiyallahu ‘anhuma berikut,
“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal
sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul
Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah,
kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada
yang kembali satupun.“[HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad
no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad
hadits ini shahih sesuai
syarat Bukhari-Muslim.]
Dalil lain yang menunjukkan keutamaan
10 hari pertama Dzulhijah adalah firman Allah Ta’ala,
“Dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 2).
Di sini Allah menggunakan kalimat
sumpah. Ini menunjukkan keutamaan sesuatu yang disebutkan dalam sumpah. [Lihat Taisir Karimir Rahman,
‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun
1420 H, hal. 923.]
Makna ayat ini, ada empat tafsiran
dari para ulama yaitu: sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah, sepuluh hari
terakhir bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Ramadhan dan sepuluh hari
pertama bulan Muharram. [Zaadul
Masiir, Ibnul Jauziy, Al Maktab Al Islami,
cetakan ketiga, 1404, 9/103-104.]
Malam (lail) kadang juga digunakan untuk menyebut hari (yaum), sehingga ayat tersebut bisa dimaknakan sepuluh hari Dzulhijah. [Lihat Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh
Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan tahun 1424
H, hal. 159.]
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan
bahwa tafsiran yang menyebut sepuluh hari Dzulhijah, itulah yang lebih tepat.
Pendapat ini dipilih oleh mayoritas pakar tafsir dari para salaf dan selain
mereka, juga menjadi pendapat Ibnu ‘Abbas. [Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islamiy, cetakan pertama, tahun 1428
H, hal. 469.]
Lantas manakah yang lebih utama, apakah 10 hari
pertama Dzulhijah ataukah 10 malam terakhir bulan Ramadhan?
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad memberikan
penjelasan yang bagus tentang masalah ini. Beliau rahimahullah berkata, “Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan lebih
utama dari sepuluh malam pertama dari bulan Dzulhijjah. Dan sepuluh hari
pertama Dzulhijah lebih utama dari sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dari
penjelasan keutamaan seperti ini, hilanglah kerancuan yang ada. Jelaslah bahwa
sepuluh hari terakhir Ramadhan lebih utama ditinjau dari malamnya. Sedangkan
sepuluh hari pertama Dzulhijah lebih utama ditinjau dari hari (siangnya) karena
di dalamnya terdapat hari nahr (qurban), hari ‘Arofah dan terdapat hari tarwiyah (8 Dzulhijjah).” [Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, Muassasah Ar Risalah, cetakan ke-14, 1407, 1/35.]
6 Amalan Utama di Awal Dzulhijah
Pertama: Puasa
Disunnahkan untuk
memperbanyak puasa dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijah karena Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam mendorong kita untuk beramal sholeh ketika itu dan puasa
adalah sebaik-baiknya amalan sholeh. Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya,
beberapa istri Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam mengatakan, “Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah,
pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya,[Yang jadi patokan di sini adalah
bulan Hijriyah, bukan bulan Masehi] ” [HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al
Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]
Di antara sahabat yang mempraktekkan
puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti
Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa
pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama.
Kedua: Takbir dan Dzikir
Yang termasuk amalan sholeh juga
adalah bertakbir, bertahlil, bertasbih, bertahmid, beristighfar, dan
memperbanyak do’a. Disunnahkan untuk mengangkat (mengeraskan) suara ketika
bertakbir di pasar, jalan-jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya. Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan, Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di
hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijah dan juga pada
hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada
sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut
bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah. [Dikeluarkan oleh Bukhari tanpa sanad (mu’allaq), pada Bab “Keutamaan
beramal di hari tasyriq”].
Catatan:
Perlu diketahui bahwa takbir itu ada
dua macam, yaitu takbir muthlaq (tanpa dikaitkan dengan waktu tertentu) dan takbir muqoyyad (dikaitkan dengan waktu tertentu).
Takbir yang dimaksudkan dalam
penjelasan di atas adalah sifatnya muthlaq, artinya tidak dikaitkan pada waktu dan tempat
tertentu. Jadi boleh dilakukan di pasar, masjid, dan saat berjalan. Takbir
tersebut dilakukan dengan mengeraskan suara khusus bagi laki-laki.
Sedangkan ada juga takbir yang
sifatnya muqoyyad, artinya dikaitkan dengan waktu tertentu yaitu
dilakukan setelah shalat wajib berjama’ah.
Takbir muqoyyad bagi orang yang tidak berhaji dilakukan mulai dari shalat Shubuh pada
hari ‘Arofah (9 Dzulhijah) hingga waktu ‘Ashar pada hari tasyriq yang terakhir. Adapun bagi orang yang berhaji dimulai dari shalat
Zhuhur hari Nahr (10 Dzulhijah) hingga hari tasyriq yang terakhir.
Cara bertakbir adalah dengan ucapan: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha
illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Ketiga: Menunaikan Haji dan Umroh
Yang paling afdhol ditunaikan di
sepuluh hari pertama Dzulhijah adalah menunaikan haji ke Baitullah.
Keempat: Memperbanyak Amalan Sholeh
Sebagaimana
keutamaan hadits Ibnu ‘Abbas yang kami sebutkan di awal tulisan, dari situ
menunjukkan dianjurkannya memperbanyak amalan sunnah seperti shalat, sedekah,
membaca Al Qur’an, dan beramar ma’ruf nahi mungkar.
Kelima: Berqurban Di hari Nahr (10 Dzulhijah) dan hari tasyriq disunnahkan untuk berqurban sebagaimana ini adalah
ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.
Keenam: Bertaubat Termasuk yang ditekankan pula di awal Dzulhijah adalah
bertaubat dari berbagai dosa dan maksiat serta meninggalkan tindak zholim
terhadap sesama. Intinya, keutamaan
sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada
amalan tertentu, sehingga amalan tersebut bisa shalat, sedekah, membaca Al
Qur’an, dan amalan sholih lainnya. Sudah seharusnya setiap muslim menyibukkan
diri di hari tersebut (sepuluh hari pertama Dzulhijah) dengan melakukan
ketaatan pada Allah, dengan melakukan amalan wajib, dan menjauhi larangan
Allah.
0 komentar
Posting Komentar